Tafsir Al Qur'an - Tafsir Ath Thabari QS 001 : Al Fatihah 4
Abu Ja'far berkata: para qurra` telah berselisih pendapat dalam bacaan ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ . Diantara mereka ada yang membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ dan ada yang membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ dan ada yang membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ dengan manshub. Seluruh riwayat dalam masalah ini telah kami jelaskan secara rinci dalam buku kami Al Qira 'at, dimana kami telah memilih satu bacaan yang paling tepat menurut kami dengan alasan-alasan tertentu, dan tidak perlu kami mengulanginya dalam buku ini, karena yang kami maksudkan dengan buku ini adalah menjelaskan sisi-sisi penakwilan ayat-ayat Al Qur'an dan bukan sisi-sisi qira `atnya.
Tidak seorang pun ahli bahasa Arab yang berselisih pendapat, bahwa kata الملك diambil dari kata المالك yang berarti kerajaan, dan kata adalah diambil dari kata ail yang berarti kepemilikan.Dengan demikian, penakwilannya menurut orang yang membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ adalah milik Allah-lah segala kerajaan kelak pada hari kiamat dan tidak seorang pun yang berhak memilikinya, dimana ketika di dunia mereka memperebutkannya dan mengakuinya dengan penuh kesombongan dan kebanggaan, lalu —ketika berhadapan dengan Allah— mereka menyadari kemahan dirinya dan mengakui bahwa Allah-lah Pemilik segala kerajaan. sebagaimana firman Allah SWT,
"(yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur), tiada suatu pun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman):
"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini" Kepunyaan Allah Yang Maha Esa 1agi Maha Mengalahkan." (Qs. Al Mukmin [40]: 16).Adapun menurut orang yang membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ maka penakwilannya adalah seperti riwayat berikut:
1. Abu Karib menceritakan kepada kami, katanya, Utsman bin Sa' id menceritakan kepada kami dari Basyar bin Imarah, katanya, Abu Rawl menceritakan kepada kami dari Adh-Dhahak, dari Abdullah bin Abbas tentang firman Allah SWT, ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ ia berkata, "Tidak seorang pun yang memiliki keputusan hukum bersama-Nya pada hari itu seperti halnya mereka di dunia . Kemudian berkata, Allah berfirman, "Pada hari, ketika ruh dan para malaikat berdiri bershaf-shaf mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar " (Qs. An-naba' [78]: 38)
Dan Allah SWT berfirman,
"Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja. " (Qs. Thaaha [20] : 108)Dan firman-Nya,
"Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. " (Qs. Al Anbiyaa' (21):28).
Abu Ja'far berkata: Menurutku, penakwilan dan qira 'at yang paling tepat adalah yang pertama, yaitu dibaca مَلِكِ dari الملك yang berarti kerajaan. Karena pengakuan bahwa hanya Tuhan-lah Raja pada hari itu men pengakuan bahwa Tuhan-lah Pemilik segala sesuatu. Karena seperti diketahui bahwa setiap raja pasti memiliki, dan tidak setiap yang memiliki itu berarti raja.
Amma ba 'du sesungguhnya Allah Ta 'ala telah menginformasikan kepada hamba-Nya sebelum ayat ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ bahwa Dia adalah Tuhan Pemilik jagat raya yang mengatur mereka dan menyayanginya di dunia dan akhirat, dengan firman-Nya, الحمد لله رب العلمين , الرَّحَمنِ الرَّحِْمِ . Oleh karenanya, jika dibaca menurut bacaan kedua; ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ (Pemilik hari kiamat) ia berarti pengulangan dari makna ayat pertama yang notabene posisi keduanya saling berdekatan, hanya lafazhnya yang berbeda namun maknanya sama, dan ini tentu tidak menambah faidah yang barn bagi pendengamya. Akan tetapi jika dibaca مَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ yang berarti mengakui dengan tulus bahwa seluruh kerajaan pada hari itu hanya milik Allah Ta 'ala, maka tidak terjadi pengulangan makna di sini. Dan inilah bacaan yang paling tepat menurut kami.
Dan jika ada yang menyangkal bahwa kalimat رَبِّ الْعلَمِيْنَ adalah menginformasikan tentang kepemilikan-Nya di dunia bukan di akhirat, sehingga perlu menginformasikan bahwa Dia pula yang memiliki mereka di akhirat dengan firman-Nya ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ maka ini adalah sangkalan yang salah. Karena jika benar bahwa kalimat hanya رَبِّ الْعلَمِيْنَ terbatas pada kepemilikan dunia dan tidak mencakup akhirat tanpa ada indikasi dalil dari makna dzahimya, dari hadits, atau logika, maka benar pula jika orang menyangka bahwa kalimat hanya terbatas pada masa turtmnyadan tidak mencakup masa berikutnya!, karena seperti yang kami jelaskan, bahwa alam setiap masa adalah tidak sama dengan alar‘Masa berikutnya, di mana firman Allah SWT,
"Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Bani Israil Al Kitab (Taurat), kekuasaan dan kenabian dan Kami berikan kepada mereka rezeki-rezeki yang baik dan Kami lebihkan mereka atas bangsa-bangsa (pada masanya). " (Qs. Al Jaatsiyah [45]: 16),
merupakan dalil yang nyata bahwa alam suatu masa tidak sama dengan alam pada masa berikutnya, dimana Allah telah memuliakan umat Nabi Muhammad SAW atas sekalian umat yang lain, sebagaimana firman-Nya,
"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. " (Qs. Al 'Imraan [3]:110).
Dan sini dapat disimpulkan bahwa bani Israil pada masa Nabi kita Muhammad SAW bukan lagi umat yang terbaik, tetapi yang terbaik adalah umat yang beriman kepadanya dan mengikuti agamanya. Dan jika tidak benar orang yang menyangka bahwa kalimat رًبِّ الْعلَمِيْنَ hanya terbatas pada masa Nabi Muhammad SAW dan tidak mencakup masa yang lainnya, maka tidak benar pula orang yang menyangka bahwa kalimat رًبِّ الْعلَمِيْنَ hanya terbatas pada kepemilikan dunia tanpa akhirat, sehingga perlu ditambah kalimat ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ untuk menginfonnasikan bahwa Allah juga Pemilik akhirat.
Adapun penakwilan orang yang membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ dengan nashab (fathah) ia bennaksud : يَا مَالِكَ يَوْمِ الِّيْن, seperti firman Allah SWT, يُوْسُُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا dengan penakwilan : يَا يُوْسُُ أَعْرِضْ عَنْ هَذَا juga sesuai ucapan seorang penyair dari bani Asad :
إِنْ كُنْتَ أَزْنَنْتَنِى بِهَا , جَزْء فلاقيت مِثْلَهَا عَجِلاً
Ia bermaksud: يَا جَزْء dan artinya :
"Jika Anda menuduhku berzina dengannya secara dusta, semoga balasan yang sama menimpamu dengan segera. "
Orang yang membaca nashab pada kalimat مَالِكَ agaknya menemukan kejanggalan makna antaraإِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ dengan ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ jika dibaca jarr (kasrah), sehingga ia membaca nashab supaya menjadi mukhathab (lawan bicara). Seakan-akan maksudnya : يَا مالكَ يَوْمِ الدِّيْن إِيَّكَنَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ Namun seandainya orang ini mengetahui penakwilan pada awal surah, dimana kalimat الحمد لله رب العلمين adalah perintah dari Allah kepada hamba-Nya supaya mengatakan demikian, seperti dijelaskan Ibnu Abbas dalam riwayatnya yang telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa Jibril mengatakan kepada Rasulullah SAW: wahai Muhammad, katakan; الحمد لله رب العلمين , الرَّحَمنِ الرَّحِْمِ ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ dan katakan juga : إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ إِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Gaya ungkapan seperti ini adalah biasa menurut orang Arab, dimana ia terkadang menceritakan yang ghaib dengan gaya mukhathab, dan mukhathab dengan gaya ghaib. Seperti ucapan Abu Kabir Al Hudzali dalam syaimya :
يا لهف كان جدة خللدٍ , وَبَيَاضُ وَجَهُكِ لِتُّرَابِ الأَعْقَرَ
Ia beralih kepada bentuk mukhathab وبياض وجحكsetelah sebelumnya pengabaran telah dilakukan oleh Khalid secara makna ghaib.
Demikian juga dalam Al Qur'an banyakditemukan, sebagaimana firmanNya,
"Dialah yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatannya kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata): "Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur " (Qs. Yuunus [10]: 22).
Dan masih banyak lagi contoh-contoh lain dari syair dan perkataan Arab yang menjadi dalil atas hal ini, namun yang kami sebutkan kiranya telah mencukupi bagi mereka yang diberikan petunjuk pemahaman. Atas dasar ini, maka tidak dibenarkan membaca ملِكِ يَوْمِ الدِّينِ (dengan nashab) karena menyalahi ijma' para qari dan ulama.
| Tafsir Ath Thabari QS 001 : Al Fatihah الْعلَمِيْنَ (Sekalian / Semesta Alam)< Sebelumnya | Berikutnya >Tafsir Ath Thabari QS 001 : Al Fatihah 4 - يَوْمِ الدِّين ِ(hari pembalasan) |
|---|









