Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Wednesday, Feb 08th

Last update:11:25:17 PM GMT

You are here: Tafsir Ath Thabari QS 001 - Al Fatihah Tafsir Ath Thabari : QS 001 - Al Fatihah 2 : الْحَمْدُ لِلّهِ

Tafsir Ath Thabari : QS 001 - Al Fatihah 2 : الْحَمْدُ لِلّهِ

Tafsir Al Qur'an - Tafsir Ath Thabari  الْحَمْدُ لِلّهِ    - Alhamdulillah (Segala Puji bagi Allah).

Abu Ja'far berkata, kata الْحَمْدُ لِلّهِ - Alhamdulillah artinya :  segala kesyukuran / pujian hanya bagi Allah Ta 'ala dan bukan untuk sesembahan yang lain, atas segala karunia yang dilimpahkan kepada para hamba-Nya yang tidak terhitung jumlahnya seperti kesehatan jiwa dan raga sehingga dapat menunaikan kewaj ibankewaj iban, berbagai macam bentuk rezeki dan kenikmatan di dunia, bahkan dijanjikan kenikmatan yang abadi di akhirat bagi yang menaati-Nya, mad segala puji bagi Allah Ta 'ala atas segalanya.

Penakwilan ini sesuai dengan sejumlah riwayat yang ada dari Ibnu Abbas dan yang lainnya :   

1. Muhammad bin 'Ala' menceritakan kepada kami, katanya, Utsman bin Sa'id menceritakan kepada kami, katanya, Basyar bin Immarah menceritakan kepada kami, katanya, Abu Rauq menceritakan kepada kami dari Adh-Dhahak, dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Jibril berkata kepada Muhammad SAW, Wahai Muhammad. ucapkanlah. Alhamdulillah' Ibnu Abbas berkata, Alhamdulillah artinya bersyukur kepada Allah dan mengakui segala kenikmatan-Nya, petunjuk-Nya dan lain sebagainya'." 
2. Sa'id bin Amru As-Sukuni  menceritakan kepadaku, katanya, Baqiyah bin Al Wa1id  menceritakan kepada kami, katanya, Isa bin Ibrahim  menceritakan kepadaku dari Musa bin Abi Habib  dari Al Hakam bin Umair  —seorang sahabat—, ia menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 
إِذَا قُلْتَ الْحَمْدُ لِلّهِ , فَقَدْ شَكَرْتَ اللّهَ فَزَادَكَ
"Jika engkau mengucapkan; segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam, berarti engkau telah bersyukur kepada-Nya dan Dia akan menambahmu”
Ia berkata, "Ada pendapat yang mengatakan bahwa perkataan alhamdulillah adalah pujian kepada Allah atas nama dan sifat-Nya yang mulia, sedang perkataan asy-syukru lillah adalah pujian kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya. Dan telah diriwayatkan dan Ka'b Al Ahbar bahwa ia berkata, "Alhamdulillah adalah pujian atas Allah, dan tidak dijelaskan dalam riwayat tersebut makna pujian yang mana."
3. Yunus bin Abdul A'la Ash-Shadafi menceritakan kepada kami, katanya, Ibnu Wahb memberitahukan kepada kami, katanya, Umar bin Muhammad  menceritakan kepadaku, dari Suhail bin Abi Shalih,  dari bapaknya, ia berkata, As-Saluli  memberitahukan kepadaku dari Ka'b, ia berkata, "Barangsiapa mengucapkan `alhamdulillah' maka itu adalah pujian atas Allah
4. Ali bin Al Hasan bin Al Kharraz menceritakan kepada kami, katanya, Muslim bin Abdurrahman Al Jarmi  menceritakan kepada kami, katanya, Muhammad bin Mus' ab Al Qargasani  menceritakan kepada kami dari Mubarak bin Fadhalah,  dari Al Hasan, dari Al Aswad bin Sari  bahwa Rasulullah SAW bersabda,
لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْحَمْدُ ِنَ اللّهِ تَعَالَى , وَلِذَلِكَ أَثْنَيْ عَلَى نَفْسِهِ فَقَالَ :   الْحَمْدُ لِلّهِ
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih dicintai Allah dari pujian kepadaNya, oleh karenanya Dia memuji atas Dzat-Nya sendiri seraya berfirman, alhamdulillah.” 

Abu Ja' far mengatakan, para ahli bahasa sepakat bahwa orang yang mengucapkan "Alhamdulillah, syukur" adalah benar. Karena menurut mereka, kata alhamdulillah terkadang digunakan dalam posisi syukur, dan kata syukur terkadang digunakan dalam posisi pujian.

Jika ada yang bertanya, lalu apa fungsi alif dan lam dalam kata alhamd? Mengapa tidak dikatakan saja :   حمداللهربالعالمين ?

Jawabannya :   bahwa masuknya alif dan lam dalam kata hamd (alhamd) memiliki makna tersendiri. yang tidak dimiliki oleh kata hamdan, dimana kata alhamdulillah artinya :  ségala puji bagi Allah, sedangkan kata hamdan lillah artinya :  aku memuji Allah, hanya sekedar pujian, tidak berindikasi pujian yang sempurna bagi Allah.

Oleh karena makna inilah para qari sepakat membaca marfu' (dhammah) pada الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العلَمِيْم dan tidak membacanya manshub (fathah) ° karena mengindikasikan makna yang tidak sempurna. Sehingga menurutku, barangsiapa yang membacanya dengan nashab maka ia pantas dihukum karena maknanya berubah dengan bacaan tersebut.

Jika ada yang berkata, "Lalu apa makna alhamdulillah? Apakah Allah memuji Dzat-Nya sendiri kemudian mengajarkannya kita untuk mengucapkannya?" Jika demikian, lalu apa penafsiran firmanAllah SWT, إِنَّاكَ تَعْبُدُ وَ إِنَّكَ تَسِنَعِيْنُ sementara Dia —Tuhan yang disembah bukan penyembah, atau apakah itu bagian dari perkataan Jibril, atau Rasulullah SAW ? Dan jika demikian, berarti bukan firman Allah

Jawabannya :   sebaliknya, semua itu adalah firman Allah Ta'ala, akan tetapi Dia memuji Dzat-Nya sendiri dengan puji-pujian yang semestinya, kemudian mengajarkannya kepada para hamba-Nya dan mewajibkan mereka untuk membacanya, sebagai ujian dariNya atas mereka, lalu berfirman kepada mereka :  katakanlah :  الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العلَمِيْم dan katakan إِنَّاكَ تَعْبُدُ وَ إِنَّكَ تَسِنَعِيْنُ . Jadi, firman Allah SWT, إِنَّاكَ تَعْبُدُ وَ إِنَّكَ تَسِنَعِيْنُ adalah lanjutan dari firman-Nya, الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العلَمِيْم seakan-akan Allah berfirman, katakan ini dan itu.

Jika ia berkata, "Akan tetapi mana perintah-Nya `katakan!'? sehingga maknanya benar seperti yang Anda katakan. 

Jawabannya :   Kami telah jelaskan sebelumnya, bahwa bangsa Arab jika mengetahui tempat kata dan yakin bahwa pendengarnya mengetahui makna yang tersembunyi dari pengucapannya maka biasanya tidak disebutkan. Apalagi jika kata yang disembunyikan tersebut berupa ucapan atau penakwilan ucapan.

Seperti ucapan seorang penyair:

"Aku tahu bahwa aku akan menjadi kuburan, jika telur berjalan ia tidak berjalan

Lalu orang-orang bertanya, untuk siapa kalian menggali lubang?

lalu orang-orang memberitahukan menteri." 

Abu Ja'far mengatakan bahwa yang dimaksud adalah :  kemudian orang-orang memberitahu (bahwa yang mati adalah) menteri, hanya saja kata tersebut dihilangkan karena telah diisyaratkan sebelumnya. Juga perkataan penyair yang lain:

"Aku melihat suamimu dalam medan perang, menyandang tombak dan pedang. 

Abu Ja'far mengatakan bahwa yang dimaksud adalah :  membawa tombak dan menyandang pedang, tapi karena maknanya sudah maklum ia tidak menyebutkannya. Demikian juga ketika melepas seorang musafir, kita cukup mengatakan padanya :  "selamat jalan", padahal maksudnya : berangkatlah, semoga Anda selamat dalam perjalanan. Demikian juga firman Allah SWT, الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العلَمِيْم dan إِنَّاكَ تَعْبُدُ وَ إِنَّكَ تَسِنَعِيْنُ ketika makna perintah-Nya telah dimaklumi oleh para hambaNya maka kata perintah-Nya tidak disebutkan oleh-Nya.

Dan telah kami sebutkan riwayat Ibnu Abbas pada awal penakwilan firman Allah SWT, الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العلَمِيْم dimana ia mengatakan, bahwa Jibril berkata kepada Muhammad, "Ucapkanlah wahai Muhammad : الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العلَمِيْم. Dan telah kami jelaskan bahwa Jibril hanya mengajarkan kepada Muhammad SAW apa yang diperintahkan untuk digunakannya. Dan riwayat ini merupalcan dalil atas kebenaran pendapat kami.