Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Tuesday, May 22nd

Last update:11:25:17 PM GMT

Ismail dan Keluarganya

Suatu kabilah dari Yaman (Jurhum Kedua) datang di sana, dan atas perkenaan ibu Isma’il mereka menetap di sana. Ada yang mengatakan, mereka sudah berada di sana sebelum itu, menetap di lembah-lembah di Pinggir kota Makkah. Adapun riwayat Al Bukhary menegaskan bahwa mereka singgah di Makkah setelah kedatangan Isma'il dan ibunya, sebelum Isma'il remaja. 

Dari waktu ke waktu Ibrahim datang ke Makkah untuk menjenguk keluarganya. Beliau tidak tahu berapa kali kunjungan yang dilakukannya. Hanya saja menurut beberapa refrensi sejarah yang dapat dipercaya, kunjungan itu dilakukan sebanyak empat kali. 

Allah telah menyebutkan di dalam Al Qur' an, bahwa Ibrahim dibuat bermimpi selagi tidur, bahwa beliau menyembelih anaknya, Isma'il. Maka dari itu beliau bangun dan hendak melaksanakan mimpi yang dianggap sebagai sebuah perintah.  

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu’, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”(Ash-Shafyat: l03-l07). 

Di dalam Kitab Kejadian disebutkan bahwa umur Isma' il selisih tiga belas tahun, lebih tua dari Ishaq. Dari rentetan kisah ini menunjukkan bahwa peristiwa itu terjadi sebelum kelahiran Ishaq. Sebab kabar gembira tentang kelahiran Ishaq disampaikan setelah terjadinya kisah ini. 

Setidak-tidaknya kisah ini menjamin satu fase kisah perjalanan, bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum Isma'il menginjak remaja. Sedangkan tiga fase lainnya telah diriwayatkan Al Bukhary secara panjang lebar, dari Ibnu Abbas secara marfu' , yang intinya bahwa sebelum remaja, Isma'il belajar bahasa Arab dari kabilah Jurhum. Karena merasa tertarik kepadanya, maka mereka mengawinkannya dengan salah seorang wanita dari golongan mereka. Saat itu ibu Isma'il sudah meninggal dunia.  

Suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya. Maka beliau datang setelah pemikalian itu. Tatkala tiba di rumah Isma'il, beliau tidak mendapatkan Isma'il. Maka beliau bertanya kepada istrinya, bagaimana keada'an mereka berdua. Istri Isma'il mengeluhkan kehidupan mereka yang melarat. Maka Ibrahim mertitip pesan, agar istrinya menyampaikan kepada Isma'il untuk merubah palang pintu rumahnya. Setelah diberitahu, Isma'il mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Isma'il menceraikan istrinya dan menikah lagi dengan wanita lain, yaitu putri Mudhadh bin Amr, pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum.

Setelah pernikahan Isma'il yang kedua ini, Ibrahim datang lagi. namun tidak bisa bertemu dengan Isma'il. Beliau bertanya kepada istri Isma'il tentang keadaan mereka berdua. Jawaban istri Isma'il adalah pujian kepada Allah. Lalu Ibrahim kembali lagi ke Palestina setelah menitip pesan lewat istri Isma'il, agar Isma'il memperkokoh palang pintu rumahnya. 

Pada kedatangan yang ketiga kalinya Ibrahim bisa bertemu dengan Isma'il, yang saat itu Isma'il sedang meraut anak panahnya di bawah sebuah pohon di de kat Zamzam. Tatkala melihat kehadiran ayahnya, Isma'il berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak bersua bapaknya, dan Ibrahim juga berbuat layaknya seorang bapak yang lama tidak bersua anaknya. Pertemuan ini terjadi setelah sekian lama. Sebagai seorang ayah yang penuh rasa kasih sayang dan lemah lembut, sulit rasanya beliau bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya. Begitu pula dengan Isma'il, sebagai anak yang berbakti dan shalih. Dengan adanya perjumpaan ini mereka berdua sepakat untuk membangun kembali Ka'bah, meninggikan sendi-sendinya dan Ibrahim memperkenankan manusia untuk berhaji sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada beliau. 

Dari perkawinannya dengan putri Mudhadh, Isma'il dikaruniai anak oleh Allah sebanyak dua belas, yang semuanya laki-Iaki, yaitu:

 

  1. Nabat atau.Nabayuth, 
  2. Qidar, 
  3. Adba'il, 
  4. Mabsyam, 
  5. Masyma, 
  6. Dunia, 
  7. Misya, 
  8. Hadad, 
  9. Yatma, 
  10. Fathur, 
  11. Nafis dan 
  12. Qaidaman. 
Dari mereka inilah kemudian berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Makkah untuk sekian lama. Pokok pencaharian mereka adalah berdagang, membentang dari negeri Yaman hingga ke negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di berbagai penjuru jazirah, dan bahkan keluar jazirah. Seiring dengan perjalanan waktu, keadaaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak keturunan Nabat dan Qidar. 

 

Ilmuwan MuslimAl-Zahrawi, Bapak Ilmu Bedah Modern

article thumbnail

Peletak dasar-dasar ilmu bedah modern itu bernama Al-Zahrawi (936 M-1013 M). Orang barat mengenalnya sebagai Abulcasis. Al-Zahrawi adalah seorang dokter bedah yang amat fenomenal. Karya dan hasil pemi [ ... ]


Muslim Lainnya