| Indeks Artikel |
|---|
| Dibawah lindungan Nubuwah dan Risalah |
| Jibril Turun Membawa Wahyu |
| Wahyu Terputus |
| Jibril Turun Membawa Wahyu untuk Kedua Kalinya |
| Semua Halaman |

Di Gua Hira'
Dari beberapa hasil pengamatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum itu telah membentangkan jarak pemikiran antara diri beliau dengan kaum beliau. Selagi usia Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hampir mencapai empat puluh tahun, sesuatu yang paling disukai adalah mengasingkan diri. Dengan membawa roti dari gandum dan air beliau pergi ke gua Hira di Jabal Nur, yang jaraknya kira-kira dua mil jari Makkah, suatu gua yang tidak terlalu besar, yang panjangnya empat Hasta dan lebarnya antara tiga perempat hingga satu hasta. Kadang-kadang keluarga beliau ada yang menyertai ke sana. Selama bulan Ramadhan beliau berada di gua ini, dan tak lupa memberikan makanan kepada setiap orang miskin yang juga datang ke sana. Beliau menghabiskan waktunya untuk beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya dan kekuatan tak terhingga di balik alam. Beliau tidak pernah merasa puas melihat keyakinan kaumnya yang penuh kemusyrikan dan segala persepsi mereka yang tak pernah lepas dari tahayul. Sementara itu, di hadapan beliau juga tidak ada jalan yang jelas dan mempunyai batasan-batasan tertentu, yang bisa menghantarkan kepada keridhaan dan kepuasan hati beliau.
Pilihan beliau untuk mengasingkan diri ini termasuk satu sisi dari ketentuan Allah atas diri beliau, sebagai langkah persiapan untuk menerima urusan besar yang sedang ditunggunya. Ruh manusia mana pun yang realitas kehidupannya akan disusupi suatu pengaruh dan dibawa ke arah lain, maka ruh itu harus dibuat kosong dan mengasingkan diri untuk beberapa saat, dipisahkan dari berbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.
Begitulah Allah mengatur dan mempersiapkan kehidupan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, untuk mengemban amanat yang besar, merubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Allah telah mengatur pengasingan ini selama tiga tahun bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam sebelum membebaninya dengan risalah. Beliau pergi untuk mengasingkan diri ini selama jangka waktu sebulan, dengan disertai ruh yang suci sambil mengamati kegaiban yang tersembunyi di balik alam nyata hingga tiba saatnya untuk berhubungan dengan kegaiban itu tatkala Allah sudah memperkenankannya. (Fi Zhilalil-Qur'an, 29/l66)









