| Indeks Artikel |
|---|
| Menjawab Film FITNA : Ayat II |
| futna2-1 |
| Semua Halaman |
Halaman 1 dari 2
Ayat kedua yang merupakan fitnah film Fitna adalah firman-Nya:Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat- ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan siksa. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat di atas diperdengarkan oleh film Fitna hingga firman-Nya: (i i) li yadzûq al-‘adzâb/supaya mereka merasakan siksa sambil menayangkan juga terjemahannya yang yang menyatakan:
“Those who have disbelieved our signs, we shall roost them in fire. Whenever their skins are cooked to a turn, we shall substitute new skin for them. That they may feed the punishment. Verify Allah in a sublime and wise.”
Itu semua disertai dengan penayangan seorang “Muslim” yang berpidato berapi-api sambil menghunus pedang, untuk mengajak berjihad disertai dengan teriakan Allâh Akbar. Selanjutnya ditayangkan suatu wawancara dengan seorang bocah perempuan “Muslimah” yang ditanyai tentang orang-orang Yahudi dan dijawab olehnya bahwa mereka itu adalah monyet-monyet dan babi-babi. Setelah ditanyai siapa yang menyatakan demikan, sang bocah menjawab: “Allah.”
Tidak jelas mengapa QS. an-Nisâ’ [4]: 56, yang mereka pilih untuk memfitnah. Boleh jadi hal tersebut mereka maksudkan untuk membuktikan bahwa Allah yang disembah kaum Muslim memerintahkan untuk menyayat kulit orang-orang kafir dan membakar mereka hidup-hidup, lalu membiarkannya hingga sembuh dan mengulangi lagi pembakarannya! Atau bisa juga tujuan mereka adalah menggambarkan betapa “kejam” Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim dalam penyiksaan-Nya.
Benarkah demikian? Jelas tidak! Bukan saja karena ayat di atas tidak berbicara tentang siksa duniawi, tetapi berbicara tentang sesuatu yang dapat terjadi kelak di dalam neraka yakni di akhirat. Bukan hanya karena itu, tetapi juga karena dengan jelas ada larangan Nabi Muhammad saw. untuk menyiksa siapa pun dengan api, sesuai sabdanya:
“Tidak ada yang boleh menyiksa dengan api kecuali Tuhannya api (yakni Allah)” (HR. Abu Daud melalui Hamah al-Aslami).
Sekali lagi, ayat di atas berbicara tentang siksaan yang diancamkan terhadap orang- orang kafir kelak di Hari Kemudian. Itu pun oleh sementara ulama tidak dipahami dalam arti hakiki. Firman-Nya: “Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain,” mereka pahami dalam arti setiap orang kafir yang disiksa itu menduga bahwa siksa atas mereka telah berakhir atau akan berakhir dengan hancurnya kulit dan jasmani mereka, Allah menganugerahkan lagi kepada mereka hidup baru yang menjadikan siksa atas mereka berlanjut sampai waktu yang dikehendaki-Nya. Sebagian ulama lain memahami ayat di atas dalam arti hakiki sambil menyatakan bahwa ayat di atas merupakan ancaman. Pemahaman mereka dikuatkan oleh temuan ilmuwan yang membuktikan bahwa saraf yang tersebar pada lapisan kulit merupakan yang paling sensitif terhadap pengaruh panas dan dingin. Atau dengan kata lain, kulit adalah alat perasa yang paling peka.
Jika demikian, apakah ayat di atas mengantar siapa pun untuk berkata, apalagi membuktikan, bahwa Allah swt., Tuhan yang disembah oleh kaum Muslim, adalah Tuhan yang kejam? Jelas juga tidak boleh demikian! Karena ayat ini dan yang semacam ini merupakan ancaman yang belum tentu terjadi sebagaimana yang dilukiskan itu, karena Allah, Tuhan Yang dipercayai oleh kaum Muslim adalah Tuhan Yang Maha Pengasih, yang Rahmat-Nya menyentuh segala sesuatu sebagaimana berkali-kali dinyatakan oleh al- Qur’an dan Sunnah.









