Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Tuesday, Jul 22nd

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Ibadah Cara Sholat Nabi saw 10. Itidal

10. Itidal

Itidal (bangkit dari ruku)Rasulullah saw mengangkat punggungnya dari, ruku' (itidal) sambil mengucapkan,

Sami'a Allahu liman hamidah
"Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memuji-Nya". (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Hal ini beliau perintahkan kepada orang yang shalatnya tidak betul. Beliau bersabda :

"Tidaklah sempurna shalat seseorang, sehingga ia bertakbir, kemudian ruku' lalu mengucapkan, `Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memuji-Nya'. Sehingga ia berdiri tegak lurus". (H.R. Abu Daud dan AI-Hakim dan dishahihkan serta disepakati oleh Adz-Dzahabi)

Kemudian diriwayatkan bahwa :

Sambil berdiri beliau mengucapkan, Robbanaa walakal hamdu"Wahai Tuhan kami, - dan - kepunyaan-Mu-lah segala puji ". (H.R. Al-Bukhari dan Ahmad)

Hal ini beliau perintahkan kepada setiap orang yang shalat, baik yang menjadi ma'mum, maupun yang tidak. 

Beliau bersabda :

"Shalatlah, sebagaimana kamu sekalian melihat aku shalat." (H.R. Al-Bukhari dan Ahmad)

Dan beliau bersabda :

"Sesungguhnya imam itu dijadikan hanya untuk diikuti. Oleh karena itu, apabila ia mengucapkan, "Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memuji-Nya, maka ucapkanlah Ya Allah, ya Tuhan kami, kepunyaan Mu-lah segala puji, niscaya Allah memperhatikan kamu. Karena Allah yang bertambah-tambahlah berkah-Nya dan bertambah-tambahlah keluhuran-Nya telah berfirman melalui lisan Nabi-Nya "Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memuji-Nya".(Muslim, Abu Uwanah, Ahmad dan Abu Daud.) 

Hal ini diberi alasan di dalam sebuah hadits lain dengan sabdanya:

"Karena barang siapa yang ucapannya itu bertepatan dengan ucapan para malaikat, maka ia diampuni dari segala dosanya yang telah lalu ". (HR. Al-Bukhari dan Muslim serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi).

Diriwayatkan bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada waktu I'tidal ini (Al.Bukhari dan Muslim) dengan cara-cara sebagaimana yang telah diterangkan pada takbirati `I-Ihram. Dan beliau mengucap sambil berdiri sebagaimana diterangkan tadi :

 

  • "Wahai Tuhan kami, dan kepunyaan-Mu-lah segala puji." (Al.Bukhari dan Muslim) Dan kadangkala beliau mengucapkan : 
  • Rabbanaa lakal hamdu"Wahai Tuhan kami, kepunyaan-Mu-lah segala puji." (Al.Bukhari dan Muslim)

 

 

Kedua lafazh di atas, kadangkala beliau tambahkan dengan ucapannya :  

 

  • "Ya Allah".

 

Lafazh di atas telah beliau perintahkan dengan sabdanya :

"Apabila imam mengucapkan,  Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memuji-Nya, maka ucapkanlah,  `Ya Allah ya Tuhan kami, kepunyaan Mu-lah segala puji. Karena, barang siapa yang ucapannya sesuai dengan ucapan para malaikat, maka ia diampuni dari segala dosanya yang telah lalu". (HR. Al-Bukhari dan Muslim serta dishahihkan oleh At-Tirmudzi).

 

Kadangkala, lafazh di atas beliau tambahkan, baik dengan :

 

 

"Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu". (H.R. Muslim dan Abu `Uwanah).

maupun dengan :

 

 

"Sepenuh langit dan - sepenuh - bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, serta sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu." (H.R. Muslim dan Abu `Uwanah).

 

Kadangkala beliau menambah lafazh di atas dengan :

 

 

 

"Yang memiliki pujian dan pujaan. Tidak ada yang melarang terhadap apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi terhadap apa yang Engkau larang. Dan tidaklah bagian orang yang memiliki bagian di dunia (Artinya adalah bagian, keagungan dan kekuasaan. Yakni bagian orang yang mempunyai bagian di dunia berupa harta, anak, keagungan dan kekuasaan tidaklah bermanfaat. Yakni bagiannya itu tidak akan menyelamatkan dia dari-Mu, akan tetapi yang menyelamatkan dan bermanfaat baginya itu adalah amal shaleh.) akan dapat menyelamatkannya". (H.R. Muslim dan Abu `Uwanah)

 

Dan kadangkala tambahannya itu adalah :

 

 

“Sepenuh langit dan sepenuh bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki sesudah itu. Yang memiliki pujian dan pujaan. Lebih benar dari apa yang diucapkan oleh hamba. Dan masing-masing dari kami adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang melarang terhadap apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang memberi terhadap apa yang Engkau larang. Dan tidaklah bagian orang yang memiliki bagian di dunia akan dapat menyelamatkannya". (H.R. Muslim, Abu `Uwanah dan Abu Daud).

 

Dan di dalam shalat Lail, kadangkala beliau mengucapkan :

 

 

"Bagi Tuhankulah segala puji, bagi Tuhankulah segala puji".

Dzikir ini beliau ulang-ulang, sehingga lama berdirinya hampir menyamai ruku'nya yang hampir menyamai berdirinya yang pertama, di mana beliau membaca surat Al-Baqarah. (H.R. Abu Daud dan An-Nasa'i dengan sanad yang shahih).

 

 

10. "Wahai Tuhan kami, dan kepunyaan-Mu-lah segala puji. Pujian yang banyak dan baik lagi berbarokah di dalamnya. - Yang berbarokah, sebagaimana disukai dan diridhai oleh Tuhan kami."

Dzikir ini diucapkan oleh seorang laki-laki yang shalat di belakang Rasulullah saw ketika beliau mengangkat kepalanya dari ruku' dan mengucapkan,  - "Mudah-mudahan Allah mendengarkan (memperhatikan) orang yang memuji-Nya'".

Tatkala Rasulullah saw selesai melakukan shalat, beliau bertanya:

 

"Siapa yang mengucapkan (dzikir) tadi?"

Laki-laki itu menjawab :

"Aku wahai Rasulullah".

Maka Rasulullah bersabda :

 

"Aku benar-benar telah melihat lebih dari tiga puluh malaikat bergegas-gegas mendapatkan dzikir itu, siapa di antara mereka yang akan mencatatnya lebih dahulu". (H.R. Malik, Al-Bukhari dan Abu Daud).

Referensi :

  •  Wahai anaku, inilah tatacara sholat sesuai Nabi disertai tata cara wudhu dan dzikir setelah sholatTim Pustaka Ibnu Katsir
  • Shifatu Shalatin Nabiyyi saw (minal Takbir ila't taslim Kaannaka Taraha)Muhammad Nashiruddin Al Albani.