Di dalam rukun (ruku') ini, beliau mengucapkan bermacam-macam dzikir dan do'a. Kadangkala beliau mengucapkan yang ini dan kadangkala mengucapkan yang itu :
1. "Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung".
Dzikir ini beliau ucapkan sebanyak tiga kali. ( HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Ad-Daraquthni, Ath-Thahawi, Al-Bazzar dan Ath Thabrani dalam Al-Kabir dari tujuh sahabat. Di dalamnya terdapat penolakan terhadap orang yang mengingkari adanya pengikatan dengan tujuh kali bertasbih, seperti Ibnu `I-Qaim dan lain-lainnya.) Kadangkala beliau mengulang-ulangnya lebih banyak daripada itu.( Pengertian ini diambil dari hadits-hadits yang gamblang yang menerangkan bahwa Rasulullah saw menyamakan lama berdirinya dengan ruku'nya dan sujudnya,
sebagaimana yang akan diterangkan setelah pasal ini.)) Dan sesekali beliau berlebihan di dalam mengulang-ulangnya pada waktu melakukan Shalat Lail (malam), sehingga lama ruku'nya hampir mendekati lama berdirinya, di mana beliau membaca tiga surat yang panjang, yaitu Al-Baqarah, An-Nisa' dan Ali Imran yang diselang-selangi dengan doa dan istighfar sebagaimana yang telah diterangkan pada Shalat Lail.
2. "Maha Suci dan Pemberi berkat"
(Abu Ishaq berkata, "As-Subbuh berarti yang suci dari setiap keburukan, dan Al Quddus bcrarti pemberi berkah atau yang suci”. Dan Ibnu Abi Ishaq mengatakan bahwa Subbuhun Quddusun adalah sifat Allah Ta'ala. Sebab. Allah disucikan. Demikian di dalam Lisanu '1- Arab)). Tuhan malaikat dan ruh." (HR. Muslim dan Abu `Uwanah)
3. "Maha Suci Engkau ya Allah, dan aku memuji-Mu. Ya Allah ampunilah aku".
Beliau banyak membaca dzikir dan doa ini di dalam ruku' dan sujudnya. Di sini, beliau menta'wilkan Al-Qur'an.( Al-Bukhari dan Muslim. Makna perkataan Yata'awwalu '1-Qur'ana adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yang terdapat di dalamAl-Qur'an, yakni firman Allah swt : Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepadaNya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
4. "Ya Allah, kepada-Mu kuserahkan ruku'ku, kepada-Mu aku beriman dan kepada-Mu aku menyerahkan diriku. - Engkaulah Tuhanku. Kepada-Mu-lah pendengaran, penglihatan, otak, tulang dan syarafku tunduk. Dan apa yang dibawa oleh kakiku kuserahkan kepada Tuhan semesta alam. (HR. Muslim, Abu `Uwanah, Ath-Thahawi dan Ad-Daraquthni)
5. Ya Allah, kepada-Mu kuserahkan ruku'-ku, kepada-Mu aku beriman dan kepada-Mu aku menyerahkan diriku serta kepadaMu aku bertawakkal. Engkaulah Tuhanku. Pendengaranku, penglihatanku, darahku, dagingku, tulangku dan syarafku tunduk kepada Tuhan semesta alam" (HR. An-Nasa'i dengan sanad yang shahih).
6. "Maha Suci Dzat Yang memiliki kekuasaan, kerajaan, kebesaran dan keagungan".
Dzikir ini diucapkan oleh Rasulullah pada waktu shalat Lail.( Mereka berselisih, apakah disyari'atkan untuk menyatukan doa-doa ini di dalam satu ruku' ataukah tidak? Ibnu `I-Qaim di dalam Azzad telah ragu-ragu dalam masalah ini. Sedangkan An-Nawawi di dalam Al-Adzkar telah memastikan di dalam ruku' pertama. Dia mengatakan, "Yang lebih utama adalah menyatukan seluruh doa ini, jika memang mungkin. Demikian pula doa-doa di seluruh bab hendaknya dikerjakan". Kemudian, Abu 'th-Thayyib Shadiq Hasan Khan mengatakan di dalarn Nuzulu 'l Abrar (84) : "Sesekali beliau melakukan ini dan sesekali beliau melakukan itu. Belum pemah saya melihat satu dalil pun yang menunjukkan kepada penyatuan. Rasulullah saw. tidak pernah menyatukannya di dalam satu rukun, tetapi beliau sesekali mengucapkan ini dan sesekali mengucapkan itu. Mengikuti adalah lebih batk daripada membuat bid'ah"
Isya Allah, inilah yang benar. Tetapi, memperpanjang rukun ini dan yang lainnya telah menjadi ketetapan di dalam As-Sunnah. sebagaimana yang akan diterangkan kemudian sehingga lamanya hampir mendekati lama berdir.- Maka, apabila orang yang'shalat ingin mengikuti Nabi dalam As-Sunnah ini, tidak ada jalan lain baginya selain daripada jalan penyatuan sebagihnana pendapat An-Nawa`wi. Hal ini telah diriwayatkan olch Ibnu Nashr di dalam Qiyamu 1-Lail (76) dari Ibnu Juraij dari 'Atha'. Dan kalaupun tidak demikian, maka dengan jalan pengulangan sebagian doa yang tertulis. Hal ini lebih dekat kepada As-Sunnah. Allah Maha Mengetahui.) (Abu Daud dan An-Nasa'i. dengan sanad yang shahih)
Referensi :
- Wahai anaku, inilah tatacara sholat sesuai Nabi disertai tata cara wudhu dan dzikir setelah sholat, Tim Pustaka Ibnu Katsir
- Shifatu Shalatin Nabiyyi saw (minal Takbir ila't taslim Kaannaka Taraha), Muhammad Nashiruddin Al Albani.
| 9. Ruku< Sebelumnya | Berikutnya >10. Itidal |
|---|












