FAUZ (Keberuntungan)
Kata fauz (فَوْزٌ) merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari fâza – yafûzu – fawzan (فَازَ يَفُوْزُ فَوْزًا ). Bentuk jamak dari fauz ( فَوْزٌ) adalah fawâiz ( فَوَائِزٌ). Di dalam Al-Qur’an, kata fauz (فَوْزٌ) dan kata yang seasal dengan kata itu disebut 29 kali.
Secara bahasa, kata fauz (فَوْزٌ) berarti azh-zharf bil khaîr wan najâtu minasy syarri (الظَّرْفُ بِالْخَيْرِ وَالنَّجَاةُ مِنَ الشَّرِّ = Keberhasilan memperoleh kebaikan dan terlepas dari kejahatan). Dengan kata lain, fauz (فَوْزٌ) berarti ‘keberuntungan’. Kata lain yang sinonim dengan fauz (فَوْزٌ) yang terdapat di dalam Al-Qur’an adalah iflâh (إِفْلاَحٌ ), seperti
- qad aflaha man tazakkâ (قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكًّى = sesungguhnya beruntunglah orang yang membersih kan dirinya) (QS. Al-A‘lâ [87]: 14) dan
- qad aflahal mu’minûn (قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ = Sesungguhnya ber untunglah orang yang beriman) (QS. Al-Mu’minûn [23]: 1).
Akan tetapi, kata iflâh (إِفْلاَحٌ) lebih umum dari kata fauz (فَوْزٌ), karena bisa mencakup kemenangan di dunia dan di akhirat. Untuk di dunia seperti tukang sihir yang tak akan menang melawan Nabi Musa as. (QS. Thâhâ [20]: 69). Untuk di akhirat, sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Qurthubi, keberuntungan yang diperoleh seseorang yang berat timbangan baiknya (QS. Al-A‘râf [7]: 8). Kata fauz (فَوْزٌ) lebih dikhususkan kepada keberuntungan atau kemenangan yang akan diperoleh di akhirat kelak, sebagai keberuntungan yang hakiki atau fauzun ‘azhîm (فَوْزٌ عَظِيْمٌ) (QS. Ash-Shâffât [37]: 60, QS. At-Taubah [9]: 100, dan sebagainya).
Dengan demikian, secara terminologis, kata fauz (فَوْزٌ) berarti hasil baik atau keberuntungan yang akan diperoleh seseorang yang beriman sebagai imbalan dari perbuatan baik (‘amal shâlih) yang dilakukan selama di dunia. Hasil baik itu adalah kesenangan surga dan terhindar dari siksaan neraka. Jadi, keberuntungan yang dimaksud di sini adalah ke ber untung an yang bersifat rohani dan bukan keberuntungan materi seperti yang diperoleh manusia di dunia ini.
Bila kita telusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang fauz (فَوْزٌ), hanya satu yang menggunakan afûzu (أَفُوْزُ), yang berarti ‘saya beruntung’. Itu pun menggambar kan ucapan orang munafik yang memahami ‘keberuntung an’ sebagai keberuntungan yang bersifat materi (QS. An-Nisâ’ [4]: 73). Selebihnya mengan dung makna ‘pengampunan dan keridhaan Tuhan serta kebahagiaan surgawi’. Oleh karena itu, ucapan wal fâ’izîn (وَالْفَائِزِيْنَ) sebagai sambungan dari ucapan minal ‘âidîn (مِنَ الْعَائِدِيْنَ) yang sering diucapkan pada hari Idul Fitri dipahami di dalam arti harapan dan doa, yakni semoga kita semua memperoleh ampunan dan ridha Allah swt. sehingga kita mendapatkan kenikmatan surga.
Salah satu persyaratan memperoleh keberuntungan itu adalah suka memaafkan orang lain serta lapang dada (QS. An-Nûr [24]: 22). Ayat ini berkaitan dengan kisah Abu Bakar ra. yang semula tidak akan memaafkan orang yang menyebarkan berita bohong tentang anaknya, sekaligus istri Nabi Muhammad, Aisyah ra. Setelah ayat ini turun maka Abu Bakar memaafkannya dan memperoleh keberun tungan di akhirat nantinya.
Keberuntungan di dalam arti fauz (فَوْزٌ) dikemukakan oleh Al-Qur’an sebagai keberuntung an yang kekal dan tidak akan habis-habisnya (QS. At-Taubah [9]: 100, QS. An-Nisâ’ [4]: 13, QS. At-Taghâbun [64]: 9, dan sebagainya).
Al-Barwaswi, dengan mengutip pendapat Ibnu ‘Ata’ mengatakan, al-fâ’izûn (اَلْفَائِزُوْنَ) itu adalah orang-orang yang taat kepada Allah dengan arti memerkenankan seruan yang hakiki dan taat kepada Rasulullah di dalam arti memerkenankan seruan yang berisikan nasihat-nasihat. Ditambahkan oleh Al-Maraghi bahwa taat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti semua perintah agama diikuti dan semua larangan agama dijauhi. Takut kepada Allah berarti takut berbuat dosa, karena itu mereka tinggalkan sehingga muncul rasa ingin menghindar dari dosa tersebut (takwa). Karena ketakwaan itulah mereka memperoleh fauz ( فَوْزٌ = keberuntungan yang sesungguhnya) dan terhindar dari siksaan neraka (QS. Az-Zumar [39]: 61). Yaswirmani
Ref : psq.or.id
| Fauri< Sebelumnya | Berikutnya >Fawaid al-Bunuk |
|---|









