Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Sunday, Feb 05th

Last update:11:25:17 PM GMT

You are here: Ensiklopedia A Aqsha

Aqsha

AQSHA (Yang paling jauh, [masjid] Aqsha)


Kata aqsha (أَقْصَى) disebut tiga kali di dalam Al-Quran, yakni di dalam
  1. QS. Al-Isrâ’ (17): 1, Q
  2. S. Al-Qashash (28): 20, dan 
  3. QS. Yasin (36): 20.
 
Dari segi bahasa (etimologi), kata tersebut merupakan turunan dari kata qasha (قَصَى) yang berarti ‘jauh’. Bentuk superlatif (ism tafdhil)-nya dengan bentuk mudzakkar ialah aqsha (أَقْصَى) dan muannats-nya ialah qushwa (قُصْوَى) yang artinya ‘yang terjauh’. Arti kebahasaan ini memberi kesan adanya dua sisi/arah yang terintegrasi di dalam penggunaan kata ini, arah yang satu mempunyai jarak yang paling jauh dari arah yang lain. Istilah ‘terjauh’ bersifat relatif, tergantung kepada sisi tempat kita melihat atau membandingkan jarak tersebut.
 
Ayat yang menggunakan kata aqsha (أَقْصَى) menunjukkan bahwa kata itu digunakan untuk menggambarkan “jarak yang terjauh secara fisik di antara satu tempat dengan tempat yang lain”.
 
Di antara surat dan ayat yang menyebut kata aqsha (أَقْصَى) itu ialah S. Al-Isrâ’ [17]: 1. Kata aqsha (أَقْصَى) di dalam ayat ini digunakan sebagai sifat bagi arah masjid yang ada di Palestina. Maksudnya ialah masjid Haikal yang dibangun oleh Nabi Sulaiman pada abad X sebelum Masehi, tetapi kemudian dihancurkan oleh tentara Romawi ketika mereka memadamkan pemberontakan orang-orang Yahudi dan puing-puingnya dijadikan tempat pembuangan sampah. Sejak tahun 123 H, ketika pecah lagi pemberontakan kaum Yahudi yang juga dapat dipadamkan tentara Romawi, puing-puing masjid Haikal lenyap tertimbun sampah/tanah). Tempat ini disebut sebagai masjid Aqsha (أَقْصَى) karena merupakan tempat sujud Nabi yang paling jauh dari Mekah selama perjalanan israknya di bumi.
 
S. Yâsîn [36]: 20 memberi keterangan tentang seseorang yang datang dengan tergesa-gesa dari negerinya yang jauh dan menyeru kaumnya agar mengikuti seruan Rasulullah. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa negeri yang dimaksud adalah Antiochie, termasuk wilayah Turki, tetapi setelah Perang Dunia I, negeri itu termasuk wilayah Syria.
 
Demikian Al-Quran menggunakan kata aqsha (أَقْصَى) untuk menggambarkan jarak terjauh di antara dua tempat secara fisik dan tidak untuk menggambarkan jarak dua arah yang bersifat nonfisik, seperti jarak waktu, hubungan, dan kepangkatan. Di sinilah perbedaan kata itu dengan kata lain yang berasal dari kata ba‘uda (بَعُدَ) yang secara etimologis juga berarti “jauh”. Kata ba‘îd (بَعِيْد), bentuk sifat musyabbahah dari kata ba‘uda (بَعُدَ), digunakan untuk arti fisik seperti di dalam S. Hûd [11]: 89, ...Wa mâ qaumu Lûthin minkum bi ba‘îd (... وَمَا قَوْمُ لُوْطٍ مِنْكُمْ بِبَعِيْدٍ = ... sedangkan kaum Luth itu tidak jauh tempatnya dari kamu), dapat juga digunakan untuk arti nonfisik (tidak dapat diukur dengan alat-alat ukur), seperti di dalam S. An-Nisâ’ [4]: 4, ... Yurîdu asy-syaithânu an yudhillahum dhalâlan ba‘îdan (... يُرِيْدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيْدًا = ... setan itu bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesa tan yang sejauh-jauhnya). (psq.or.id)
Ilmuwan MuslimAl Farabi

article thumbnail

Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh al-Farabi (محمد فارابی ) dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi atau yang b [ ... ]


Muslim Lainnya