Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Sunday, Apr 20th

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Aqidah Sekilas Tentang Aqidah Iman Itu Bertambah dan Berkurang

Iman Itu Bertambah dan Berkurang

Iman Itu Bertambah dan Berkurang 

 

Syaikh Bin Baz mengatakan : "Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan."

 

Penjelasan 

Maksudnya adalah pembicaraan tentang bertambahnya iman dengan melakukan ketaatan dan berkurangnya keimanan disebabkan adanya perbuatan kemaksiatan yang dilakukan. Perkataan ini adalah benar dan tidak ada keraguan padanya. Pendapat ini didasarkan pada dalil-dalil yang banyak yang bersumber dari al-Qur'an, as-Sunnah dan perkataan Salaf ash-Shalih. Di antaranya adalah sbb:

 

 

Pertama : Dalil-Dalil dari al-Qur'an. 

 

  1. " Adapun orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira," (QS. at-Taubah : 124)
  2. "Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)," (QS. al-Fath : 4)
  3. " Dan supaya orang yang beriman bertambah imannya," (QS. al Muddatstsir : 31)

 

Dan ayat-ayat lainnya. 

Iman bertambah dengan bertambahnya amal shalih dan segala sesuatu yang bisa bertambah, tentu bisa juga berkurang. Berkurangnya iman disebabkan adanya kemaksiatan yang dikerjakan dan ditinggalkannya amal shalih. Seorang mukmin berkurang imannya sejauh mana ia meninggalkan amal shalih atau ia melakukan kemaksiatan. Akan tetapi iman secara keseluruhan tetap masih ada, kecuali jika amal shalih ditinggalkan secara keseluruhan. Ada juga amal perbuatan yang khusus, yang mana iman akan hilang dengan ditinggalkannya amal perbuatan tersebut, misalnya shalat wajib. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia kafir.

 

Kedua : Dalil-Dalil dari as-Sunnah :

 

  1. Sabda Nabi saw "Barangsiapa yang melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Merubah dengan hati itu merupakan selemah-lemah iman" (As-Sunnah, lbnu Khallal hal: 566 no: 964)  Hadits ini menunjukkan, bahwa iman itu berbeda-beda dari sisi bertambah dan berkurangnya.
  2. "Tidak berzina seorang pezina, ketika berzina ia seorang yang beriman ....". (Hadits ini dikeluarkan oleh Muslim (1/69/no: 49) tentang Iman bab: Penjelasan tentang melarang kemungkaran merupakan bagian dari iman. Iman itu bertambah dan berkurang. Diriwayatkan dari hadits Thariq bin Syihab dari Abu Sa'id al-Khudri secara marfu') Maksud penafian keimanan di sini adalah penafian kesempurnaan iman dan bukan penafian asal keimanan. Karena Ahlussunnah telah bersepakat, bahwa mereka tidak mengkafirkan orang yang berzina, selama tidak menghalalkan perzinaan itu. Kalau sekiranya kafir karena perbuatan zina, maka pelakunya wajib dibunuh karena kemurtadannya, dan tidak cukup hanya sekedar menghukum orang tersebut dengan hukum rajam saja. Dalil-dalil tentang masalah ini banyak jumlahnya.

 

 

Ketiga: Dalil-Dalil dari Perkataan Salaf :

 

  1. 'Abdullah bin Ahmad dalam as-Sunnah menukil dari Waqi, bahwa iman itu bertambah dan berkurang. (Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari (5/1543/no: 2475) tentang kezhaliman bab: Pengambilan barang tanpa izin pemiliknya; dan Muslim Syarah an-Nawawi (2/41/no: 57) iman bab: Penjelasan berkurangnya keimanan karena maksiat. Keduanya meriwayatkan dari hadits Abu Hurairah secara marfu')
  2. Demikian pula Abdullah bin Ahmad menukil dari Mujahid berkata, "Iman itu bertambah dan berkurang. Iman itu meliputi perkataan dan perbuatan. (As-sunnah hal: 82 no: 426)
  3. Abdullah bin Ahmaad juga menukil dari Abu Darda dan Abu Hurairah ra, dengan makna yang sama. Dan dalil-dalil yang lain dari perkataan Salaf begitu banyak. Pada pasal pertama. telah disebutkan beberapa nukilan dari perkataan Salaf tentang penetapan, bahwa iman itu bertambah dan berkurang.

 

 

Perhatian :

Sesungguhnya amal itu merupakan bagian dari iman. Dan iman itu bertambah dan berkurang. Keimanan orang-orang yang beriman berbeda-beda, tidak sama satu dengan yang lainnya. Bahkan ketika bertambahnya amal shalih dan keyakinan pada diri seseorang, maka bertambahlah keimanannya dan menjadi lebih utama dibanding dengan orang yang selainnya. Penyebutan makna ini telah diterangkan, sebagaimana yang dinukilkan oleh al-Isma'ili dari perkataan Salaf. Ibnu Abi Malikah 'rahimakumullah * berkata, "Saya telah menjumpai tiga puluh Shahabat Rasulullah ra, mereka semua takut akan kemunafikan dalam diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengatakan, bahwa ia sama dengan keimanannya Jibril dan Mikail".

 

Ref : Syarah Aqidah as shahihah dan PembatalnyaAbdul Aziz bin fathi bin As Sayyid Nada