Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Thursday, Apr 17th

Last update:12:28:51 AM GMT

You are here: Aqidah Sekilas Tentang Aqidah Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Qadar

Pendapat Imam Abu Hanifah tentang Masalah Qadar

1. Seseorang datang kepada Imam Abu Hanifah dan mendebat beliau tentang masalah qadar. Kata beliau: “Tahukah Anda, bahwa orang yang melihat masalah matahari dengan matanya, semakin lama ia melihat, ia makin bingung. (Qalaid ‘Uqud a;-Aqyan, lembar 77-A).

2. Beliau berkata: “Allah telah mengetahui segala sesuatu sejak masa azali, sebelum segala sesuatu itu terwujud. (al-Fiqh al-Akbar, hal 302-303).

3. Beliau juga berkata: “Allah juga mengetahui sesuatu yang tidak ada ketika hal itu tidak ada, dan Allah juga mengetahui bagaimana hal itu akan ada apabila Allah mewujudkannya. Allah juga mengetahui sesuatu yang ada ketika hal itu ada, dan Allah juga mengetahui bagaimana kehancuran sesuatu itu.

4. Imam Abu Hanifah berkata: “Taqdir Allah itu ada di Lauh Mahfuzh

5. Beliau juga berkata: “Kita menetapkan bahwa Allah telah memerintahkan kepada al-Qalam dan ia berkata: “Apa yang saya tulis Wahai Tuhanku?” Allah menjawab: “Tulislah apa yang ada dan terjadi sampai hari kiamat. “Hal ini berdasarkan firman Allah:

“Segala sesuatu yang mereka lakukan tertulis didalam al-Kitab. Dan segala yang kecil dan besar tertulis” (al-Qamar : 52-53_

6. Beliau juga berkata: “Di dunia dan akhirat tidaklah ada dan terjadi sesuatu kecuali berdasarkan kehendal Allah.

7. Kata Beliau lagi, “Allah menciptakan segala sesuatu tanpa bahan apa-apa.”

8. Beliau juga berkata: “Allah adalah Maha Pencipta sebelum Dia menciptakan.”

9. Beliau juga berkata: “Kita menetapkan, bahwa hamba bersama amal-amalnya. Penetapannya dan pengetahuannya adalah makhluk. Apabila yang berbuat saja makhluk, maka perbuatan-perbuatannya lebih tepat untuk disebut makhluk”.

10. Beliau berkata lagi: “Semua perbuatan hamba, baik bergerak atau diam, merupakan usahanya, dan Allah yang menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasar kehendak, pengetahuan, penetapan dan qadar Allah.”

11. Beliau berkata: “Semua perbuatan hamba, baik bergerak maupun diam, adalah betul-betul upaya mereka, dan Allah menciptakannya. Semua perbuatan itu berdasarkan kehendak, ilmu, penetapan dan qadar Allah. Semua ketaatan adalah wajib berdasarkan perintah Allah, dan hal itu disukai, diridhai, diketahui, dikehendaki, ditetapkan dan ditaqdirkan oleh Allah. Sedang maksiat semuanya diketahui, ditetapkan, dan ditaqdirkan oleh Allah, tetapi Allah tidak menyukai dan tidak meridhai hal itu, bahkan Allah juga tidak memerintahkannya.

12. Beliau juga berkata: “Allah menciptakan makhluk berdasarkan fitrahnya, suci dari perbuatan terlarang. Kemudian Allah menyuruh mereka untuk berbuat kebajikan dan melarang untuk berbuat yang tercela. Maka, diantara mereka kemudian ada yang kafir dan melakukan perbuatan-perbuatan kekafiran dan mengingkari kebenaran. Ada juga diantara mereka yang beriman, baik melalui perbuatannya, iqrar lisannya, dan pembenaran hatinya., Dan hal itu merupakan taufiq dan pertolongan Allah kepadanya.

13. Beliau juga berkata: “Allah telah mengeluarkan anak-cucu Adam dari tulang punggunya dalam bentuk sel-sel. kemudian mereka diberi akal, lalu Allah menyuruh mereka untuk beriman dan melarang mereka dari kekafiran. Kemudian mereka mengakui ketuhaanan (Rububiyyah) Allah. Maka hal itu merupakan iman mereka. Kemudian mereka dilahirkan berdasarkan fitrah tersebut. Karenanya, sebenarnya ia telah mengubah dan mengganti fitrah itu. Sedangkan orang yang beriman dan penuh keyakinan hatinya, maka ia tetap dalam fitrah tersebut.

14. Beliau juga berkata: ” Allah-lah yang menetapkan segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun didunia dan akhirat kecuali atas kehendak, pengetahuan, dan qadha serta qadar Allah. Dan hal itu telah ditulis di Lauh Mahfuzh.

15. Beliau juga berkata: “Allah tidak memaksa seorangpun dari Makhluk-Nya untuk menjadi kafir atau mukmin. Tetapi Allah menciptakan mereka manjadi orang-orang. Sementara beriman atau menjadi kafir itu adalah perbuatan hamba. Allah mengetahui orang yang kafir pada saat ia kafir. Manakala setelah itu ia beriman, Allah juga mengetahuinya dan dia akan dicintai Allah. Dan ilmu Allah tidak berubah.