Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Wednesday, Feb 08th

Last update:11:25:17 PM GMT

You are here: Aqidah Iman kepada Hari Akhir Hakekat Mati

Hakekat Mati

Menurut para ulama kematian bukan sekadar ketiadaan atau kebinasaan belaka, tetapi sebenarnya mati adalah terputusnya hubungan roh dengan tubuh, terhalangnya hubungan antara keduanya, dan bergantinya keadaan dari suatu alam ke alam lainnya. Mati termasuk musibah terbesar, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutnya dengan nama musibah. Perhatikan firman-Nya,

"Lalu kamu ditimpa musibah kematian." (Al-Maa'idah: 106)

Dengan demikian, mati memang musibah terbesar dan bencana paling dahsyat.

Sungguh pun demikian, para ulama kita mengatakan bahwa ada musibah yang lebih besar daripada mati, yaitu lalai terhadap mati, tidak peduli, dan jarang memikirkannya, serta tidak beramal baik sebagai persiapan untuk menghadapi kedatangannya. Padahal, mati itu sendiri merupakan pelajaran bagi orang yang mau mengerti, sekaligus pemikiran bagi orang yang mau berfikir. Dalam sebuah khabar yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu wa Sallam dikatakan,

"Andaikan binatang ternak mengerti (pelajaran) dari kematian sebagannaim ijang kamu ketahui, niscaya tidak akan ada seekor binatang gemuk ilang bisa kanut makan." (menurut Al Albani dalam Adha Dha’ifah derajat hadis ini Dhaif sekali, Dhaif al Jami)

Riwayat lain menyebutkan bahwa seorang Badui berjalan mengendarai ontanya. Tiba-tiba onta itu jatuh tersungkur lalu mati. Maka Badui itu turun, mengitari kendaraannya dan bertanya-tanya, "Kenapa kamu tidak mau berdiri? Kenapa tidak mau bangkit? Anggota tubuhmu masih lengkap, dan seluruh alat indramu masih utuh, tapi mengapa? Apa yang membuatmu begini? Apa yang menjadikanmu bisa berdiri, dan apa yang membuatmu sekarang tersungkur? Dan, apa yang telah mencegahmu untuk bergerak?" Akhirnya, onta yang sudah tidak bernyawa itu pun ditinggalkannya. Dia pulang sambil tetap terheran-heran memikirkan kejadian itu.

Sebagai renungan, mari kita baca syair tentang seorang tokoh pemberani yang tiba-tiba mati,

Sebelum kematiannya tiba,

pertanda telah datang mengabarinya, 

ia jatuh terkapar,

terhenyak pada tangan dan mulutnya.

Dia enyahkan baju besi dan tombaknya. 

Lalu bentangkan jasad,

terlentang dada tengada

bagai kayu besar terbelah dua.

O, kasihan!

Penunggang kuda ksatria, 

Ada apa denganmu?

Kekuatan sirna dan tak bkara.

Ini, dua tangannya. Ini, semua raganya. 

Tidak satu pun terluka 

Tidak tercerai juga.

O, betapa pedih tiada kata!

Jika Allah menjatuhkan qadar-Nya. 

Musibah besar menghampiri Anda,

tatkala tidak mengagungkan-Nya.

Kematian adalah berita nyata Kita di sini menjadi saksi. 

Betapa dahsyat ketika terjndi.

Namun ingin slalu ingkar.

At-Tirmidzi Al-Hakim Abu Abdillah meriwayatkan dalam Nawadir Al Ushul; Telah bercerita kepada kami, Qutaibah bin Sa'id dan AL-Khathib bin Salim, dari Abdul Aziz Al-Majisyun, dari Muhammad bin Al-Muakadir, dia berkata, Salah seorang anak dari Nabi Adam Alaihissalam meninggal dunia. Maka beliau berkata, 'Hai Hawa, anakmu telah mati.'

"Apa mati itu?" tanya Hawa.

Nabi Adam menjawab, "Tidak makan, tidak minum, tidak berdiri dan tidak duduk." Maka Hawa pun menangis keras. Akhirnya, Nabi Adam berkata, "Hindari dirimu dan anak-anak perempuanmu dari tangis keras, aku dan anak-anakku tidak bertanggung jawab atas hal itu." (Isnadnya Shahih Maqthu, karena Muhammad bin Al-Muakadir tergolong tabi'in yang tsiqat. Tapi matannya agak aneh, seakan-akan diambil dari cerita)

 

Ref : At Tadzkirah fii Ajwaali Mautaa wa Umuuri Al Akhirat, Imam Syamsuddin al Qurthubi