Rumah Islam

Mari Bersama Belajar dan Membangun Islam

Wednesday, Feb 08th

Last update:11:25:17 PM GMT

You are here: Aqidah Iman kepada Hari Akhir Pertanyaan saat Hisab

Pertanyaan saat Hisab

Allah swt berfirman  : 

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Israa’ : 36)

 

dan firman-Nya, 

“Kemudian kepada kamilah kembalimu, lalu kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu ajarkan” (Yunus : 23)

 

“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasanya pula. (Al-Zalzalah : 7-8)

 

 

 

maksudnya, akan ditanya tentang hal itu dan diberi balasan. Dan masih banyak lagi ayat-ayat semakna dengan ini.

 

Adapun hal-hal yang akan ditanyakan keapada manusia ketika dihisab, antara lain difirmankan oleh Allah Ta’ala,

“kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan”(At-Takatsur : 8)

 

Berkaitan dengan ayat iini, At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, dia berkata, “Ketika ayat ini diturunkan, (yakni At-Takatsur : 8), orang-orang bertanya, Ya Rasul Allah, kenikmatan apakah yang akan ditanyakan kepada kami, padahal kami hanya punya benda hitam (korma dan air), sementara musuh ada di hadapan kami, dan pedang-pedang kami senantiasa musuh ada di bahu kami ?” Rasul menjawab, “Sesungguhnya hal itu akan terjadi.”

 

Dan kata Abu Hurairah pula : Sabda Rasullullah saw, 

“Sesungguhnya hal yang pertama-tama kan ditanyakan kepada manusia pada hari kiamat ialah akan ditanyakan kepadanya : “Bukankah kami telah menjadikan tubuhmu sehat, dan kami puaskan kamu meminum air yang sejuk?”(kata At-Tirmidzi, hadits ini gharib)

sementara itu, Abu Nu’aim Al-Hafizh mengeluarkan sebuah hadits dari Al-A’masy, dari Abu Wa’il Syaqiq, dari Abdullah, dia berkata : Sabda Rasulullah saw,

“Tidak seorang pun yang melangkah selangkah, melainkan dia akan ditanya tentang langkahnya itu, apa tujuannya.”

 

Dan, muslim meriwayatkan dari Abu Barzah Al-Aslami ra, dia berkata : sabda Rasulullah saw, 

‘Takkan bergeser kedua telapak kaki seseorang pada hari kiamat sebelum dia ditanya tentang empat perkara : tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang tubuhnya, untuk apa dia letihkan ; tentang ilmunya, amal apa yang dia lakukan dengannya; dan tentang hartanya, dari mana dia peroleh dan untuk apa dia belanjakan.”

 

Hadits ini ditakhrijj oleh At-Tirmidzi dan dia katakan hasan-shahih. Yakni dia riwayatkan hadits ini dari Ibnu Umar, dari Ibnu Mas’ud ra, dari Nabi saw. Lalu dia katakan, “Hadits ini gharib, saya tidak mengenalnya kecuali diriwayatkan dari Husain bin Qais. Tapi, Husain itu dha’if dalam soal hadits.”

Dalam bab ini ada pula diriwayatkan dari Abu Barzah dan Abu sa’id, saya katakan, juga dari Mu’adz bin jabal :  hadits tersebut telah dikabarkan kepada kami oleh Syaikh ahli riwayat Abu Muhammad Abdul wahab di benteng Iskandariah dengan cara dibacakan di hadapannya (dan seterusnya disebutkan sanadna sampai kepada) Mu’adz bin Jabal ra, dia berkata : sabda Rasulullah saw.

“Takkan bergeser kedua telapak kaki seseorang pada hari kiamat, sebelum dia ditanya tentang empat  perkara : tentang  umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang masa mudanya, untuk apa dia pergunakan; tentang hartanya, dari mana dia peroleh, dan untuk apa dia nafkahkan; dan tentang ilmunya, amal apa yang dia lakukan dengannya?”

 

Sementara itu Abu Al-qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayub Ath-Thabrani telah meriwayatkan :  telah mengabarkan kepada kami, Ahmad bin Khalid Al-Halabi, dari Yusuf bin Yunus Al-Afthas, dari Sulaiman bin Hilal, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar ra, dia berkata, “Saya mendengar rasulullah saw bersabda, 

 

“Apabila Hari Kiamat telah tiba, maka Allah memanggil salah seorang hamba-Nya, lalu disuruh-Nya hamba itu berdiri di hadapan-Nya. Dia menanyakan kepadanya tentang kedudukannya, sebagaimana Dia menanyakan tentang amalnya.”

 

Muslim meriwayatkan dari Shafwan bin Mahraz, dia berkata, “Ada seorang lelaki bertanya kepada Ibnu Umar, “Apa yang anda dengar dari rasulullah saw tentang sabdanya mengenai pembicaraan rahasia?” Ibnu Umar menjawab, “Saya dengar beliau bersabda, “ Pada Hari Kiamat orang mukmin akan didekatkan, sehingga Allah memberinya dekapan, lalu menyuruhnya mengakui dosa-dosanya. Alllah bertanya, “Apakah kamu mengaku?”

 

Mukmin itu menjaab,”Ya Tuhanku, aku mengaku.”

Maka Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku dulu telah menutupi dosa-dosamu itu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu.”

Maka orang mukmin itu diberi lembaran catatan kebaikan-kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, mereka dipanggil di hadapan seluruh makhluk seraya dikatakan, “Mereka itulah orang-orang yang dulu mendustakan  Allah.” (HR.Al-Bukhari, dimana Rasul membacakan pada akhir hadits).

“Orang-orang itulah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka. Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim.” (Hud : 18)

dan ada pula sebuah hadits diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib Ra, dia berkata : Sabda Rasulullah saw, 

“Apabila hari kiamat telah terjadi, Allah Azza wa jalla akan menyendiri dengan hamba-Nya yang mukmin. Dia perlihatkan kepada hamba-Nya itu dosa-dosanya satu persatu, kemudian Allah mengampuninya. Semua itu tanpa dilihat oleh seorang pun malaikat dekat-Nya maupun nabi utusan-Nya. Allah menutupi dosa-dosa hamba-Nya itu, yang dia tidak suka melihatnya, lalu Dia berkata kepada keburukan-keburukannya : jadilah kamu kebaikan.”

 

Abu Al-Qasim Ishaq bin Ibrahim Al-Khatali telah meriwayatkan dalam kitabnya, Ad-Dibaj; Telah menceritakan kepada kami, Harun bin Abdullah, dari Sayyar, dari Ja’far, dari Abu Imran Al-Juni, dari Abu Hurairah, Rasul bersabda, “ Allah mendekatkan seseorang kepada-Nya pada hari kiamat dan memberi dekapan. Yakni, Dia tutupi orang itu dari semua makhluk, lalu Dia serahkan kepadanya buku catatan amalnya. Dia berkata kepadanya, “Hai Anak Adam bacalah bukumu.”

Maka terbaca oleh orang itu kebaikan, dan wajahnya pun berseri-seri. Lalu terbaca olehnya keburukan, maka wajahnya menjadi muram.

Maka Allah Ta’ala bertanya kepadanya, “Apakah kamu mengaku, hai hambaku ?”

“Ya, aku mengaku, ya Tuhanku,” jawab orang itu.

Allah berfirman, “ Sesungguhnya Aku lebih tahu tentang dosa-dosamu itu daripada kamu. Sesungguhnya Aku telah mengampuninya untukmu.”

Demikian seterusnya, tiap kali ada satu kebaikan yang diterima, orang itu bersujud, dan tiap kali ada satu keburukan yang diampuni, orang itu bersujud pula. Hanya itulah yang diketahui oleh makhluk-makhluk lainnya, sehingga mereka berseru sesamanya, “ Beruntung sekali orang ini, rupanya dia tidak pernah bermaksiat sama sekali.” Sementara mereka tidak tahu apa yang terjadi antara orang itu dengan Allah Ta’ala, yakni dosa-dosa yang Allah beritahukan kepadanya.”

Saya katakan : ada satu naskah dari sini sampai dengan pasal sabda Nabi, “Tidak bergeser…”dst, yang isinya : Telah mengabarkan kepada kami, Syaikh perawi Al-Qurasyi Abdul Wahab dengan cara dibaca di hadapannya di benteng Iskandariah (dan seterusnya disebutkan isnad hadits secara berurutan sampai kepada) Abu dzar Ra, dia berkata : sabda rasulullah saw, “ Ada sseorang didatangkan pada hari kiamat, lalu diperintahkan, “Perlihatkan kepadanya dosa-dosa kecilnya, dan sembunyikan dosa-dosa besarnya, “ Lalu orang itu ditanya, “kamu telah melakukan ini, ini dan ini?” tiga kali. Dan orang itu mengaku, dan tidak mangkir. 

Orang itu takut kalau dosa-dosa besarnya didatangkan, tetapi ternyata Allah swt berfirman, “Beri dia ganti satu kebaikan untuk tiap-tiap keburukannya.”

Ketika sangat berharap, dia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku mempunyai dosa-dossa tetapi tidak aku lihat disini.” (HR Muslim)

Kata Abu Dzar, “Saya melihat Rasulullah saw tersenyum sehingga tampak gigi-gigi gerahamnya dan selanjutnya beliau membacakan : “Maka mereka itu keburukannya diganti Allah dengan kebaikan.” (Al Furqon : 70)

Hadis diatas dikeluarkan pula oleh Muslim dalam Shahihnya dari Muhammad bin Abdullah bin Numair, dia berkata :”Telah menceritakan kepada kami Al A’masy” lalu dia sebutkan hadis tersebut.

 

Ref : At Tadzkirah, Bekal menghadapi Kehidupan Abadi - Imam Syamsudin Al Qurthubi